KEGIATAN PENANGGULANAGAN RESISTENSI ANTIBITIK UNTUK SDM PELAYANAN KEFARMASIAN PEMERINTAH DAN SWASTA TAHUN 2019

KEGIATAN PENANGGULANAGAN RESISTENSI ANTIBITIK UNTUK SDM PELAYANAN KEFARMASIAN PEMERINTAH DAN SWASTA TAHUN 2019

kegiatan-penanggulanagan-resistensi-antibitik-untuk-sdm-pelayanan-kefarmasian-pemerintah-dan-swasta-tahun-2019.jpg

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), resistensi antibiotik adalah salah satu masalah kesehatan global di dunia modern. Resistensi antibiotik menyebabkan banyak kuman atau bakteri penyebab penyakit tak mampu lagi disembuhkan dengan obat antibiotik biasa.

Flora normal merupakan kumpulan organisme yang menghuni organ tertentu di tubuh manusia. Umumnya, flora normal beranggotakan bakteri baik yang menjaga organ tersebut. Jika antibiotik diberikan secara serampangan, maka bakteri baik ini ikut terbunuh. Padahal, tubuh manusia membutuhkan kehadiran bakteri baik sebanyak 90.000 triliun hingga 100.000 triliun untuk dikatakan sehat. Akibatnya, tubuh individu mengalami infeksi yang semakin parah. Bakteri jahat justru berkembang biak secara pesat.

Masyarakat kerap kali diberi antiobiotik ketika berobat. Nyatanya, tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik dalam proses pengobatannya. Karena sebenarnya, ada sistem dari tubuh yang namanya 'Self healing'. Saat terserang penyakit, bisa sembuh sendiri tanpa antibiotik,  dengan demikian, pemberian antibiotik yang sembarangan kepada pasien justru bisa menyerang daya tahan tubuh pasien. Akibatnya, pasien bukannya sembuh, malah semakin sakit. Pemberian antibiotik hanya diperbolehkan untuk penyakit yang disebabkan bakteri. Jadi, apabila penyakit bersumber dari virus, maka tidak perlu diresepkan antibiotik. Selama ini, masyarakat ataupun tenaga medis kerap salah kaprah karena tergesa-gesa dalam mengonsumsi antibiotik.

Menurut Dr Khancit Limpakarnjanarat, WHO Representative untuk Indonesia, resistensi antibiotik bisa dicegah. Caranya tentu saja dengan mengubah kebiasaan berobat yang selama ini sangat tergantung kepada antibiotik. Dijelaskan Dr Khancit bahwa penyebab munculnya resistensi antibiotik adalah mutasi bakteri atau kuman penyakit. Mutasi ini terjadi karena dua hal, pertama adalah penyalahgunaan antibiotik dan kedua adalah penggunaan antibiotik berlebihan. Penyalahgunaan antibiotik merupakan masalah paling umum. Pasien yang mendapatkan resep antibiotik seringkali tidak menghabiskan dosis obat ketika tubuh sudah terasa lebih enak. Hal ini membuat pengobatan tidak sempurna dan bisa memicu bakteri bermutasi. Kedua adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan. Pada beberapa penyakit seperti pilek, demam atau batuk, seringkali pasien memiliki sugesti, jika tak diobati dengan antibiotik, penyakit tidak sembuh. Bakteri yang pada awalnya bisa dikalahkan dengan antibiotik biasa kini berubah menjadi lebih kuat karena sudah terbiasa menghadapi antibiotik.

Karena itu, dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Resistensi antibiotik bukan hanya masalah milik pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, namun dokter, organisasi profesi hingga masyarakat juga harus terlibat aktif dan teredukatif secara benar. sebagai upaya untuk memberikan edukasi ya ng tepat dalam penggunaan antibiotik oleh masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bogor melalui seksi Perbekes dan POM Menggelar pertemuan sosialisasi penanggulangan resistensi antibiotik untuk SDM pelayanan Kefarmasian baik yang berada di Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta dan pelayanan kefarmasian diwilayah Kota Bogor .

acara dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Rubaeah, MKM dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para Narasumber dari Kementrian Kesehatan. Kamis, 5/12/2019

Editor : Humas Dinas Kesehatan

Share On : Twitter Facebook Google+