Pencegahan dan Penanganan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor Dinas Kesehatan Kota Bogor, Maret 2020

Pencegahan dan Penanganan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor Dinas Kesehatan Kota Bogor, Maret 2020

pencegahan-dan-penanganan-masalah-gizi-balita-di-kota-bogor-dinas-kesehatan-kota-bogor,-maret-2020.jpeg

Bagaimana masalah gizi balita di Kota Bogor ?

Data Balita di Kota Bogor berdasarkan data estimasi BPS adalah 94.902 balita. 

Pada , Bulan Penimbangan Balita (BPB) pada Agustus 2019, jumlah balita yang ditimbang sejumlah 83.074 balita. Jumlah balita gizi buruk (BB/TB) adalah 54 orang atau sebesar 0,07%. Sepuluh  kelurahan di mana terdapat balita gizi buruk adalah kelurahan Panaragan, Kebon Kalapa, Gudang, Rancamaya, Paledang, Sukadamai, Pasir Kuda, Tajur, Pasir Jaya, Tegal Gundil. Selanjutnya seluruh balita tersebut diberikan penatalaksanaan sesuai standar meliputi penanganan klinis, untuk mencari kemungkinan penyakit penyerta dan pengobatan yang adekuat, diberikan PMT (pemberian makanan tambahan) berupa formula, susu dan biskuit selama 90 hari. Setelah pemberian PMT,  saat ini dari 54 balita, 31 orang sudah naik berat badannya dan status gizi nya sudah menjadi gizi kurang dan gizi baik. sedangkan 23 balita sisanya masih dalam kondisi gisi buruk.  Hal ini disebabkan karena 23 balita ini penyakit penyerta, seperti meningitis , jantung ,TB, yang menghambat kenaikan berat badan. 

Bagaimana dengan balita stunting ?

Hasil BPB di Kota Bogor Tahun 2019,  jumlah balita stunting sebanyak 3.757 (4,52%) terdiri dari balita sangat pendek 565 dan pendek 3192 balita.  Sepuluh kelurahan dengan angka stunting tertinggi adalah : Tanah Sareal, Pasir Kuda, Empang, Bondongan, Cikaret, Muara Sari, Sukaresmi, Baranang Siang, Babakan Pasar, Panaragan.  Stunting bukan hanya tentang postur tubuh yang pendek.  Tetapi lebih dari itu, dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih besar, yaitu menurunnya fungsi kognitif (kecerdasan) dan meningkatnya fakto resiko terjadinya penyakit tidak menular saat anak ini dewasa.

Stunting disebabkan oleh berbagai factor. Faktor pertama adalah kurangnya asupan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan yaitu masa dalam kandungan sampai balita berusia 2 tahun.  Asupan yang kurang ini tergambar dalam kondisi ibu hamil yang kurang gizi dan anemia. Penyebab lain adalah tidak diberikannya IMD (Inisiasi Menyusu Dini), ASI Eksklusif pada bayi sampai 6 bulan dan dilanjutkan dengan 2 tahun.  Pola makan balita yang tidak sesuai, baik dalam jumlahnya maupun dalam kandungan gizinya.  Banyak ibu yang memberikan makan balita dari makan instan atau jajanan. Selain masalah dalam asupan gizi, stunting juga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat, meliputi air bersih, jamban sehat, polusi termasuk asap rokok.

Kota Bogor yang memiliki visi mewujudkan Kota Bogor Ramah Keluarga, dengan misi mewujudkan kota Bogor sehat, cerdas dan sejahtera. Terkait dengan upaya penurunan stunting, konvergensi pencegahan stunting dilakukan dengan kegiatan terintegrasi TALEUS BOGOR (Tanggap Leungitkeun Stunting Ti Kota Bogor). Program ini merupakan program terintegrasi, melibatkan pentaheliks stake holder yang terkait meliputi pemerintah kota, LSM/organisasi masyarakat, akademisi, CSR dan media.Program dilaksanakan berjenjang mulai dari tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan.

Intervensi spesifik penanganan stunting dilakukan dengan pendekatan siklus hidup, mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita dan anak sekolah. Kegiatan meliputi pemberian tablet tambah darah pada remaja putri, konseling dan pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pemeriksaan terpadu ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif dan Imunisasi.Pada anak sekolah diberikan edukasi tentang pedoman gizi seimbang sesuai pedoman Isi Piringku. Pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan gizi balita meliputi pembentukan Kelas ASI, Kelompok Pendukung ASI, Kelas Gizi , PMBA (Pemberian Makanan Balita dan Anak), Permainan Zimba (Gizi Seimbang).

Intervensi sensitif dilakukan secara terpadu lintas sector meliputi edukasi Gerakan Konsumsi Pangan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan membudayakan pola konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman untuk hidup sehat, aktif, dan produktif kepada masyarakat.  Upaya perbaikan lingkungan dilakukan dengan peningkatan akses terhadap air bersih dan jamban sehat. Mendorong terbentuknya Kelurahan Bebas BAB Sembarangan (ODF = Open Defecation Free).  Upaya peningkatan jaminan kesehatan dilakukan untuk memastikan seluruh warga Kota Bogor memiliki jaminan kesehatan (UHC=Universal Health Coverage).

 

Demikian upaya pencegahan dan penanganan masalah gizi yang dilakukan Kota Bogor . Semua upaya ini perlu peran serta seluruh stake holder kesehatan dan lintas sektor dan juga peran serta masyarakat. Yang terpenting adalah bagaimana menimbulkan kesadaran masyarakat, untuk selalu memantau pertumbuhan dan perkembangan balita di keluarganya dengan membawa balita secara rutin ke posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya; juga menerapkan pola asuh dan membiasakan perilaku hidup bersih sehat

 

Dr Erna Nuraena

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat

DInas Kesehatan Kota Bogor

Editor : dinkes

Share On : Twitter Facebook Google+